ESDM Proyeksi Ekspor Batu Bara Turun 30 Juta Ton Tahun Ini
Aktivitas tambang batu bara di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. – Bisnis/Husnul Iga Puspita
Ekspor batu bara Indonesia diproyeksi turun 30 juta ton pada tahun ini akibat penurunan permintaan dari China.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Ditjen Minerba Kementerian ESDM Surya Herjuna mengatakan, penurunan ekspor lebih dominan dipicu permintaan dari China yang turun, sementara permintaan dari India masih stabil. “Tapi turunnya [ekspor] itu kan bukan karena batu bara kita enggak laku. Memang, ekonomi kan lagi agak turun, China dan India juga turun,” ujar Surya saat ditemui di sela-sela agenda 2nd Coalindo Coal Conference, Rabu (5/11/2024).
Untuk mendongkrak kinerja ekspor, pihaknya mendorong diversifikasi pasar seperti peluang ekspor ke Filipina yang dinilai dapat menjadi backbone tujuan ekspor Indonesia.
Menurut Surya, kebutuhan batu bara Filipina masih tumbuh lantaran penggunaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara yang masih tinggi.
Terlebih, Filipina merupakan negara kepulauan sehingga PLTU tersebar di berbagai wilayah negara tersebut. Lebih lanjut, Surya menjelaskan, Indonesia memang menjadi salah satu eksportir batu bara terbesar dengan volume hampir 500 juta ton per tahun. Namun, struktur sumber daya yang dimiliki masih menjadi tantangan besar.
“Kalau kita ukur ekspor ke China cuma sampai sekarang 120 juta ton, produksi mereka hampir 40 juta. Jadi artinya sebenarnya penguasaan pasar itu agak semu kita sebenarnya, agak semu di pasar Asia kita,” ujarnya.
Di sisi lain, Surya juga menyoroti produksi batu bara nasional mengalami penurunan sebesar 7,47% secara tahunan (year-on-year) menjadi 584,168 juta ton per September 2025. Dia mengungkapkan bahwa dari total cadangan batu bara nasional sekitar 93 miliar ton, 73% di antaranya merupakan batu bara berkalori rendah, sedangkan kalori tinggi hanya 5%, dan kalori menengah sekitar 8%. Kondisi ini membuat daya saing batu bara Indonesia di pasar global menjadi terbatas, terutama karena sebagian besar tambang batu bara berkalori menengah dan tinggi berasal dari perusahaan tambang lama dengan tingkat stripping ratio yang tinggi serta berada di kawasan hutan yang sulit diakses.
“Artinya sebenarnya keterdapatan kita untuk menguasai pasar-pasar Asia atau dunia itu dari segi resources tidak terlalu kompetitif,” ungkapnya.
Pemerintah kini tengah berupaya mengoptimalkan produksi batu bara yang tersedia dengan menyesuaikan strategi pemanfaatan energi domestik, khususnya untuk kebutuhan pembangkit listrik.
Di sisi lain, meski produksi turun, harga batu bara dunia menunjukkan tren kenaikan yang memberikan sedikit ruang bagi penerimaan negara. Namun, Surya menilai kenaikan harga tersebut belum cukup signifikan untuk mendongkrak penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
(RH99)
Sumber – Bisnis.com
