Kelompok Bersenjata Anti-Hamas Muncul, Dikaitkan dengan Rencana Perdamaian AS

GAZA, SEJUK.CO.ID – Situasi keamanan di Gaza mulai menunjukkan dinamika baru menjelang rencana perdamaian yang ditawarkan oleh Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump. Sejumlah kelompok bersenjata yang secara terbuka menyatakan penentangan terhadap Hamas kini muncul dan beroperasi di wilayah-wilayah yang dikendalikan oleh pasukan Israel.

Kelompok-kelompok ini, yang terdiri dari milisi berbasis klan, geng kriminal, hingga formasi baru, sebagian dilaporkan mendapat dukungan dari Israel. Bahkan, Perdana Menteri Israel telah mengakui adanya dukungan tersebut beberapa waktu lalu. Selain itu, elemen-elemen di dalam Otoritas Palestina—saingan politik Hamas di Tepi Barat—juga diyakini memberikan bantuan secara diam-diam.

Menurut lansiran Kompas.com, milisi ini beroperasi di lebih dari 53 persen area Gaza yang saat ini berada di bawah kontrol militer Israel.

Peran Kelompok dalam Rencana Pasca-Perang

Keberadaan milisi anti-Hamas ini menjadi sorotan karena dikaitkan dengan potensi peran mereka dalam masa depan Gaza.

  • Pasukan Rakyat: Salah satu kelompok besar yang dipimpin Yasser Abu Shabab beroperasi di sekitar Rafah, Gaza selatan. Wakil kelompok ini bahkan menyebut adanya kerja sama dengan Dewan Perdamaian, sebuah lembaga internasional yang disiapkan untuk mengelola Gaza berdasarkan proposal perdamaian AS.
  • Pasukan Serang Kontra-Terorisme: Pemimpin kelompok ini di dekat Khan Younis, Hossam al-Astal, mengklaim kepada media Israel bahwa perwakilan AS telah mengonfirmasi bahwa kelompoknya akan terlibat dalam pengamanan Gaza di masa mendatang.

Ketika ditanya mengenai sumber pasokan, Al-Astal tidak membantah adanya koordinasi dengan Israel. Ia menyatakan, “Anggap saja ini bukan waktu yang tepat bagi saya untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi kami berkoordinasi dengan pihak Israel untuk mendatangkan makanan, senjata, semuanya.”

Al-Astal menegaskan posisinya: “Kami adalah hari berikutnya untuk Gaza yang baru. Kami tidak keberatan bekerja sama dengan Otoritas Palestina, dengan Amerika, dengan siapa pun yang berpihak pada kami. Kami adalah alternatif bagi Hamas.”

Pro dan Kontra di Kalangan Warga

Meski muncul sebagai alternatif bagi Hamas, kelompok-kelompok bersenjata kecil ini justru menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian warga Gaza.

Seorang warga Gaza City, Saleh Sweidan, menilai keras kemunculan milisi tersebut. “Pemerintahan mana pun lebih baik daripada geng,” katanya. Warga lain, Zaher Doulah, menyebut kelompok yang bekerja sama dengan Israel ini sebagai “pengkhianatan besar.”

Namun, di sisi lain, sebagian warga memilih bergabung demi alasan keamanan. Montaser Masoud (31), yang pindah ke kota tenda yang dikelola Al-Astal, merasa lebih aman di wilayah tersebut. Ia beralasan bahwa tinggal di wilayah Hamas lebih berbahaya karena risiko serangan bom.

Perdana Menteri Israel sendiri membela dukungan terhadap kelompok-kelompok tersebut, mengklaim bahwa keberadaan mereka membantu menyelamatkan nyawa prajurit Israel dan kritik terhadap dukungan itu justru menguntungkan Hamas.

Meskipun demikian, rencana perdamaian yang digagas Presiden Trump yang mencakup pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional dan kepolisian Palestina yang telah dilatih ulang, belum secara resmi mencantumkan peran milisi-milisi lokal bersenjata ini.

Sumber Informasi : Kompas.com

(RH99)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *