Pengukuhan Lagu Ratu Sinuhun: Menghidupkan Kembali Memori Keadilan dan Identitas Budaya Palembang

PALEMBANG, SEJUK.CO.ID – Pengukuhan lagu “Ratu Sinuhun” ciptaan Ali Goik baru-baru ini menandai tonggak penting dalam upaya memperkuat identitas dan memori kolektif budaya Palembang. Lagu ini dipandang bukan sekadar karya musik, melainkan sebagai media yang mampu menyatukan kembali sejarah, nilai moral, dan citra kepemimpinan perempuan di Sumatera Selatan.

Menurut Dr. (K) Silo Siswanto, S.Sn., M.Sn., pengukuhan lagu ini merupakan langkah strategis untuk menghidupkan kembali figur perempuan yang berperan besar dalam lahirnya nilai hukum dan moral masyarakat Palembang, sebagaimana yang tertuang dalam ajaran Simbur Cahaya.

Ratu Sinuhun sebagai Simbol Keadilan

Dr. Silo Siswanto menekankan bahwa sosok Ratu Sinuhun merupakan representasi nyata dari kepemimpinan perempuan yang menanamkan nilai-nilai keadilan, moralitas, dan kebijaksanaan. Lagu ini bertindak sebagai medium musikal yang menghadirkan kembali jejak sejarah, memungkinkan generasi saat ini untuk merasakan kehadiran nilai-nilai luhur yang telah membentuk Palembang berabad-abad silam.

Dalam analisisnya, Dr. Silo Siswanto menggunakan perspektif Susanne Langer, yang memandang musik sebagai bahasa simbolik yang dapat membentuk pola perasaan kolektif:

  • Melodi yang naik melambangkan keagungan pemimpin.
  • Phrasing yang tenang menandakan kebijaksanaan.
  • Ritme yang stabil menghadirkan kesan kewibawaan.

“Dengan demikian, musik dalam lagu ini bekerja bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai bahasa simbolik yang memperkuat citra Ratu Sinuhun secara emosional dan kultural,” ujarnya pada Kamis (20/11/2025).

Lagu Sebagai Memori Kolektif dan Edukasi Sejarah

Mengutip pandangan ahli seperti Mark Johnson dan Thomas Turino, Dr. Silo Siswanto menyoroti kapasitas musik untuk “menubuh hidup” dalam pengalaman sosial masyarakat. Lagu “Ratu Sinuhun” karya Ali Goik menjadi bagian dari memori kolektif karena memuat nilai-nilai relevan bagi identitas Palembang, seperti moralitas, keteladanan, dan kebanggaan historis. Lagu ini tidak hanya didengar, tetapi dihayati, diulang, dan diwariskan.

Dalam perspektif Christopher Small, lagu ini adalah tindakan sosial yang menghubungkan masyarakat dengan sejarah mereka. Dengan daya musikal dan sosial yang menyatu, lagu ini berfungsi sebagai:

  1. Medium Edukasi Sejarah: Mengenalkan generasi muda pada akar budaya Palembang.
  2. Penguat Identitas Lokal: Mempertegas kebanggaan dan nilai-nilai khas Palembang.
  3. Simbol Penghormatan: Apresiasi terhadap tradisi kepemimpinan perempuan di masa lalu.

Pengukuhan lagu “Ratu Sinuhun” ini, menurut Dr. Silo Siswanto, merupakan jembatan yang tidak hanya menghidupkan nilai-nilai sejarah, tetapi juga membuka ruang baru bagi pemberdayaan perempuan di masa depan. Palembang tidak hanya merayakan sejarah, tetapi juga menegaskan komitmennya untuk menjaga dan menghidupkan warisan budaya yang berharga.

(RH99)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *