Yasser Abu Shabab, Pemimpin Milisi Dukungan Israel, Tewas di Gaza

GAZA, 5 Desember 2025 – Yasser Abu Shabab, figur kontroversial dan pemimpin kelompok milisi bersenjata Popular Forces (Pasukan Populer), dikonfirmasi tewas pada Kamis, 4 Desember 2025, setelah sebelumnya dilarikan ke rumah sakit di Israel. Kematian tokoh dari klan Tarabin dekat Rafah, Jalur Gaza, ini segera memicu spekulasi dan dipandang sebagai kegagalan signifikan dalam upaya Israel mencari alternatif pemerintahan lokal di wilayah yang masih dikuasai Hamas.

Latar Belakang: Dari Narapidana Menjadi Tokoh Kontroversial

Yasser Abu Shabab (diperkirakan lahir antara 1990 hingga 1993) dikenal memiliki catatan kriminal, termasuk kasus perdagangan narkoba dan penyelundupan. Sebelum konflik terakhir, ia mendekam di penjara yang dikelola Hamas namun berhasil keluar setelah pecahnya perang.

Kelompok yang dipimpinnya, Popular Forces, juga dikenal sebagai Anti-Terror Service, muncul ke permukaan pada pertengahan tahun 2024, diperkirakan beranggotakan hingga 300 orang, sebagian besar adalah mantan perwira Otoritas Palestina. Kelompok ini beroperasi di Rafah timur dan Khan Yunis.

  • Peran Kontroversial: Abu Shabab secara terbuka mengakui bahwa kelompoknya berkoordinasi dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di zona yang dikendalikan Israel. Ia mengklaim tujuan utama mereka adalah memberantas korupsi Hamas dan mengamankan distribusi truk bantuan kemanusiaan dari penjarahan.
  • Tuduhan Pengkhianatan: Hamas dan kelompok perlawanan lainnya segera melabeli Abu Shabab sebagai “pengkhianat” dan “agen Israel”. Kelompoknya juga dituduh terlibat dalam penjarahan bantuan. Pengadilan militer Hamas bahkan telah mengeluarkan ultimatum baginya untuk menyerahkan diri.
  • Dukungan Israel: Pejabat pertahanan Israel secara implisit mengakui adanya dukungan terhadap klan-klan lokal seperti yang dipimpin Abu Shabab, sejalan dengan strategi mereka untuk mencari kekuatan tandingan yang dapat mengambil alih fungsi sipil dan keamanan di Gaza pasca-Hamas.

Kronologi Kematian: Tiga Versi yang Bertentangan

Peristiwa yang menyebabkan kematian Abu Shabab diselimuti oleh kontradiksi tajam dari berbagai sumber:

  1. Versi Milisi (Pasukan Rakyat): Kelompok Abu Shabab mengklaim ia tewas akibat luka tembak saat berupaya menengahi perselisihan sengit antarkeluarga atau klan di Rafah. Mereka membantah adanya keterlibatan Hamas, berusaha mempertahankan citra Abu Shabab sebagai tokoh masyarakat yang tewas dalam tugas mediasi.
  2. Versi Sumber Keamanan Gaza/Israel: Sumber ini menyatakan bahwa Abu Shabab tewas dalam bentrokan sengit dengan anggota klan lokal yang kuat di Rafah. Bentrokan diduga dipicu oleh penolakan Abu Shabab untuk membebaskan sandera dari klan tersebut yang ditangkap oleh anak buahnya. Versi ini menyoroti bahwa perlawanan terhadap kolaborator juga datang dari faksi lokal yang kuat.
  3. Respon Hamas: Meskipun tidak mengklaim serangan, Hamas menyambut kematian Abu Shabab sebagai “nasib pengkhianat,” yang berfungsi sebagai kemenangan propaganda. Pernyataan ini menegaskan dominasi dan kemampuan operasional Hamas untuk menargetkan pihak yang dianggap berkhianat.

Implikasi Politik dan Keamanan Pasca Kematian

Kematian Yasser Abu Shabab merupakan pukulan telak terhadap ambisi Israel untuk menciptakan entitas pemerintahan non-Hamas di Gaza.

  • Kegagalan Strategi Pengganti: Proyek Israel untuk bergantung pada tokoh klan lokal guna menjalankan fungsi sipil terbukti rentan dan berbahaya. Insiden ini kemungkinan akan membuat klan-klan lain berpikir ulang untuk bekerja sama dengan Israel.
  • Kekuatan Hamas Dikonfirmasi: Hamas berhasil menegaskan bahwa mereka masih memiliki jaringan intelijen dan kemampuan operasional yang mendalam untuk menargetkan pihak yang dianggap berkhianat, bahkan di wilayah yang berdekatan dengan IDF.
  • Meningkatnya Kekacauan: Wilayah Rafah dan Khan Yunis semakin rawan kekacauan. Kekhawatiran munculnya bentrokan internal yang dipicu persaingan kekuasaan dan balas dendam di antara faksi dan klan semakin tinggi.

Para analis sepakat bahwa insiden ini memperumit upaya Israel merumuskan strategi pasca-perang di Gaza, karena alternatif yang didukung Israel terbukti tidak stabil dan tidak mampu bertahan menghadapi tekanan domestik.


(Admin-Sejuk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *