Perbanas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Mentok di Level 5,33 Persen
JAKARTA – Memasuki akhir 2025, sejumlah lembaga keuangan dan otoritas moneter mulai memberikan sinyal optimisme terhadap prospek perekonomian nasional pada tahun depan.
Setelah diterjang tekanan daya beli dan perlambatan ekspansi usaha pada 2024-2025, indikator makro dinilai mulai menunjukkan perbaikan di tahun 2026.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) sekaligus Direktur Utama BRI Hery Gunadi memproyeksikan perekonomian Indonesia pada 2026 akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2025.
Proyeksi tersebut sejalan dengan perkiraan perbankan dan Bank Indonesia (BI) yang menempatkan pertumbuhan ekonomi tahun depan di kisaran 5,1 persen hingga 5,33 persen.
“Ini adalah range angka yang menunjukkan optimisme dan kami melihat pertumbuhan 2026 lebih baik dibandingkan tahun ini,” tutur Hery dalam acara di Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (8/12/2025).
Dari sisi perbankan, pertumbuhan kredit pada 2026 diperkirakan masih berada pada level single digit. Hery menilai hal tersebut tetap berada dalam koridor positif karena sektor keuangan dan dunia usaha masih dalam fase pemulihan.
Meski outlook 2026 membaik, Hery mengingatkan bahwa sejumlah tantangan masih perlu diwaspadai. Dua isu utama adalah menurunnya daya beli masyarakat dan minimnya ekspansi pelaku usaha.
“Banyak pelaku usaha masih wait and see, menunggu kondisi lebih baik untuk menentukan sektor yang akan dimasuki. Ini yang membuat ekspansi belum optimal,” ungkapnya.
Hery juga menyoroti target pemerintah untuk membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 8 persen.
Menurutnya, pencapaian tersebut tidak mungkin diraih dalam satu atau dua tahun, tetapi membutuhkan strategi jangka panjang melalui pendekatan dual track economy.
Track pertama adalah hilirisasi padat modal, seperti di sektor nikel, migas dan komoditas energi, guna meningkatkan produktivitas dan nilai tambah. Namun ia mengingatkan bahwa sektor padat modal menyerap tenaga kerja kurang dari 3 persen.
Track kedua adalah hilirisasi padat karya yang mencakup manufaktur, pertanian, makanan-minuman, konstruksi dan perdagangan, sektor yang menampung sekitar 75 persen tenaga kerja Indonesia.
Hery menilai insentif untuk sektor padat karya masih kurang optimal, sehingga perlu didorong melalui kebijakan seperti keringanan pajak, subsidi upah dan penjaminan kredit untuk sektor strategis.
“Insentif ke sektor ini relatif belum terlalu optimal. Rekomendasi kebijakannya adalah keringanan pajak, subsidi upah dan skema penjaminan kredit bagi sektor beresiko tinggi namun strategis dan diperlukan,” ucapnya.
Terakhir, mengutip data OCE Perbanas (Desember 2025) yang menunjukkan bahwa kenaikan 10 persen daya beli pekerja padat karya dapat mendorong PDB sekitar 0,9 persen, terutama melalui multiplier effect konsumsi rumah tangga.
Sumber Berita – Tribunnews.com
