Proyeksi Harga Emas Pekan Ketiga November 2025: Terjepit Tekanan Dolar dan Suku Bunga The Fed
sejuk.co.id – Bisnis | Sabtu, 8 November 2025
JAKARTA – Proyeksi pergerakan harga emas memasuki pekan ketiga November 2025 menunjukkan sinyal kehati-hatian di pasar global. Logam mulia ini diprediksi berisiko melanjutkan pelemahan, terutama akibat kombinasi tekanan dari penguatan Dolar Amerika Serikat dan ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang masih tinggi.
Analis Pasar Komoditas, Andy Nugraha dari Dupoin Futures Indonesia, menyebut sentimen pasar terhadap emas saat ini cenderung berhati-hati.
“Kondisi ini dipicu oleh faktor-faktor utama seperti pergerakan dolar AS, perubahan ekspektasi suku bunga The Fed, serta dinamika risiko eksternal yang masih tinggi,” jelas Andy dalam risetnya yang dikutip pada Sabtu (8/11/2025).
Risiko Pelemahan Menuju US$3.812
Andy memprediksi harga emas berisiko melanjutkan tren bearish dan menguji level support psikologis di area sekitar US$3.812 per troy ounce pada pekan ketiga November 2025. Ia juga mewanti-wanti bahwa koreksi harga yang lebih dalam dapat terjadi apabila momentum jual di pasar tidak mereda.
Namun, terdapat skenario alternatif yang menawarkan peluang rebound. Harga emas dapat melanjutkan penguatan menuju US$4.381 per troy ounce apabila mampu menembus batas teknikal penting di area US$4.167 per troy ounce.
“Level US$4.167 dipandang sebagai batas teknikal yang dapat mengonfirmasi pembentukan tren bullish jangka pendek,” tambahnya.
Dolar AS dan Data Ekonomi Menjadi Katalis Utama
Dari sisi fundamental, pasar mencatat Dolar AS sempat melemah tipis menyusul pernyataan hawkish sejumlah pejabat The Fed pekan ini. Meskipun demikian, imbal hasil obligasi AS yang masih berada di level tinggi cenderung membatasi ruang kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
Hubungan korelasi terbalik antara emas dan Dolar AS menjadi perhatian. Ketika Dolar melemah, emas cenderung mendapat dukungan karena harganya menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Menurut Dupoin, katalis terdekat yang akan menentukan arah emas adalah rilis data ekonomi Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan, terutama data tenaga kerja swasta, inflasi, atau data manufaktur.
“Jika data ekonomi AS dirilis mengecewakan, maka peluang penurunan suku bunga oleh The Fed dapat kembali menguat. Skenario tersebut akan memberikan sentimen positif bagi emas dan membuka peluang kenaikan harga lebih lanjut,” ujar Andy.
Investor diingatkan untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko dan mencermati setiap perkembangan fundamental global yang dapat memicu volatilitas harga emas dalam waktu dekat.
Emas Antam Bergerak Sideways di Pekan Awal November
Sementara itu, pergerakan harga emas domestik yang dicerminkan oleh harga buyback emas Antam (PT Aneka Tambang Tbk.) ukuran 1 gram bergerak sideways sepanjang sepekan (3 hingga 7 November 2025).
Pada Jumat (7/11/2025), harga pembelian kembali emas Antam berada di Rp2.161.000, setelah sempat turun menyentuh Rp2.125.000 pada tanggal 5 November 2025. Posisi ini masih terpaut cukup jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang tercatat di Rp2.336.000 pada 21 Oktober 2025.
Harga emas Antam ukuran 1 gram per Jumat (7/11/2025) dibanderol Rp2.296.000, yang juga menjauh dari rekor ATH di Rp2.487.000 pada tanggal yang sama di bulan Oktober.
Transaksi buyback emas di dalam negeri (penjualan kembali ke Antam) dengan nominal di atas Rp10 juta dikenakan PPh 22 sebesar 1,5% bagi pemegang NPWP, dan 3% bagi non-NPWP, sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017.
(RH99)
