Kereta Api Kilat Pajajaran: Gambir–Bandung Hanya 1,5 Jam, Pesaing Baru Whoosh?
BANDUNG: Rencana peluncuran kereta cepat konvensional pada rute Jakarta–Bandung semakin menemukan titik terang. PT Kereta Api Indonesia (KAI) kini tengah mematangkan konsep KA Kilat Pajajaran, sebuah layanan kereta jarak jauh yang diklaim mampu memangkas waktu tempuh dari Stasiun Gambir ke Bandung menjadi hanya 90 menit (1,5 jam).
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengonfirmasi perkembangan proyek ini saat melakukan kunjungan lapangan bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM). Keduanya meninjau kesiapan lintasan dan membahas rencana konektivitas baru yang mencakup rute Jakarta, Bandung, hingga Banjar.
Menurut Gubernur Dedi Mulyadi, relasi penuh Gambir–Bandung–Banjar diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu total 3,5 jam. Rinciannya adalah 1,5 jam untuk Jakarta–Bandung dan 2 jam untuk Bandung–Banjar. Selain itu, jalur ini juga direncanakan akan diperluas jangkauannya hingga ke Garut dan Tasikmalaya.
“Layanan ini diharapkan dapat menjangkau Garut, Tasikmalaya, dan Banjar, dengan total perjalanan dari Bandung sekitar dua jam,” jelas KDM, seperti dilaporkan oleh Media Indonesia.
KA Kilat Pajajaran diposisikan sebagai kereta api konvensional tercepat setelah Whoosh, yang saat ini memegang rekor waktu tempuh Jakarta–Bandung sekitar 46 menit. Perbedaan mendasarnya, Kilat Pajajaran akan memanfaatkan jalur rel konvensional yang telah ditingkatkan, bukan jalur high-speed rail baru seperti yang digunakan Whoosh.
Opsi Perjalanan Baru Jakarta–Bandung
Inisiatif Kilat Pajajaran ini melengkapi berbagai proyek infrastruktur yang bertujuan memangkas waktu tempuh antara Jakarta dan Bandung. Pemerintah juga sedang mempercepat pembangunan Jalan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (Japeksel), yang diklaim dapat mengurangi waktu perjalanan darat hingga di bawah satu jam.
Tol Japeksel direncanakan menghubungkan JORR Jatiasih dengan Tol Purbaleunyi di Sadang, Purwakarta. Proyek ini termasuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ditargetkan dapat beroperasi secara fungsional untuk mendukung arus mudik Lebaran 2026.
Jika Tol Japeksel rampung, pengguna jalan menuju Bandung akan memiliki tiga opsi utama: Tol Jakarta–Cikampek yang sudah ada, Tol MBZ (layang), dan Japeksel.
Banyaknya pilihan moda transportasi baru, baik tol maupun kereta cepat, menimbulkan kekhawatiran bahwa ini dapat menjadi “predator” bagi layanan Whoosh yang saat ini merupakan opsi tercepat.
Target Realisasi Proyek
Gubernur Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa kajian teknis untuk Kilat Pajajaran dijadwalkan dimulai pada tahun 2026, konstruksi dimulai pada 2027, dan target operasional ditetapkan pada tahun 2030.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana mendanai proyek ini melalui APBD dengan alokasi anggaran sekitar Rp2 triliun per tahun selama empat tahun. KDM juga membuka peluang investasi dari pemerintah daerah sepanjang lintasan agar wilayah tersebut dapat memiliki titik pemberhentian.
KDM menekankan bahwa proyek ini merupakan upaya untuk mengembalikan “peradaban transportasi” yang modern, ramah lingkungan, dan mampu menjangkau lebih banyak wilayah tanpa menyebabkan kerusakan struktur tanah.
Sebagai catatan sejarah, jalur Jakarta–Bandung pernah ditempuh dalam waktu 2 jam 30 menit melalui layanan KA JB250 Argo Gede, yang diluncurkan pada 31 Juli 1995. Layanan ini kemudian dikenal sebagai Argo Gede, sebelum munculnya Argo Parahyangan Excellence yang sempat mencapai waktu tempuh 2 jam 50 menit pada 2019, sebelum akhirnya dihentikan saat pandemi COVID-19.
